Immanuel Kant

Tidak boleh di sangsikan bahwa Immanuel Kant termasuk filsuf yang terbesar dalam sejarah filsafat modern. Tentang riwayat hidupnya tidak dapat dikisahkan hal-hal yang mencolok mata. Ia lahir di Konigsberg, sebuah kota kecil di prusia timur. Dalam Universitas di kota asalnya ia menekuni hampir semua mata pelajaran yang diberikan dan akhirnya menjadi professor disana. Dalam bidang filsafat, Kant dididik dalam suasana rasionalisme yang pada waktu itu merajalela di universitas-universitas Jerman. Kant tidak kawin dan selalu hidup tertib, sehingga ia dapat mencurahkan seluruh waktu dan tenaga kepada karya-karya filosfisnya

Kehidupan Kant bisa dibagi dua periode yaitu pada zaman pra kritis dan zaman kritis. Dalam zaman pra kritis ia menganut pendirian rasionalistis yang dilancarkan oleh wolff dan kawan-kawannya. Tetapi karena dipengaruhi oleh Hume, berangsur-angsur Kant meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatkan bahwa Hume lah yang membangunkannya dari tidur dogmatisnya. Yang menyusul ialah zaman kritis. Dan justru dalam zaman kedua inilah Kant mengubahkan wajah filsafat secara radikal. Kant sendiri menamakan filsafatnya sebagai kritisisme dan ia mempertentangkan kritisisme dengan dogmatisme. Menurut dia, kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan batas-batas rasio. Kant adalah orang pertama yang menggunakan penyelidikan ini.

Selain itu Kant juga melakukan kritik atas rasio murni, dimana kant dapat dianggap sebagai suatu usaha raksasa untuk memperdamaikan rasionalisme dengan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur-unsur apriori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman. Menurut Kant baik empirisme ataupun rasionalisme, dua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan paduan atau sintesa antara unsure-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori.

Setelah itu dia juga melakukan kritik atas rasio praktis, dimana dia mengatakan bahwa rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan. Kalau begitu, rasio disebut “rasio teoretis” atau menurut istilah yang dipakai Kant sendiri “rasio murni”. Tetapi disamping itu ada juga “rasio praktis”, yaitu rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan atau dengan kata lain rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita. Kant beranggapan bahwa ada tiga hal yang harus diandaikan supaya tingkah laku kita jangan menjadi mustahil. Tetapi harus diinsyafi baik-baik bahwa ketiga hal itu tidak dibuktikan tapi dituntut, Kant meyebut ketiga hal tersebut “ketiga postulat dari rasio praktis” yaitu, kebebasan kehendak, imortalitas jiwa dan adanya tuhan, menerima ketiga postulat itu itu dinamakan Kant sebagai kepercayaan “Glaube”

Yang terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan. Di sini kita tidak bisa menganalisa isi kritik ketiga ini. Cukup hanya problem-problem yang dibentangkan dalam karya ini. Konsekuensi dari “kritik atas rasio murni” dan “kritik atas rasio praktis” ialah bahwa ada dua kawasan tersendiri, yaitu kawasan keperluan mutlak di bidang alam dan kawasan kebebasan di bidang tingkah laku manusia. Maksud Kant dalam Kritik der Urteilskraft [kritik atas daya perimbangan] ialah mengerti peresuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas [tujuan]. Finalitas bias bersifat subyektif dan obyektif. Kalau finalitas berdifat subyektif, manusia mengarahkan obyek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi peda pengalaman estetis [kesenian]. Pengalaman estetis itu diselidiki dalam bagian pertama bukunya, yang berjudul Kritik der ashthetischen Urteilskraft. Dengan finalitas yang bersifat obyektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam. Finalitas dalam alam itu diselidiki dalam bagian kedua, yaitu Kritk der teologischen Urteilskraft.

Setelah era Kant, banyak bermunculan para filsuf diantaranya ialah JOHANN GEORG HAMANN [1730-1788], FREIDRICH HEINRICH JACOBI [1743-1819], dan JOHANN GOTTFRIED HER-DER [1744-1803] mereka mewakili filsafat kepercayaan. Selain itu masih ada beberapa nama yang terkenal seperti Fichte, Schelling dan Hegel

(copy from kulinet.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: